Table of Contents
Toggle4. Kualitas Sel Telur atau Sperma Kurang Optimal
Meski ovulasi terjadi dan sperma mencapai sel telur, jika kualitasnya tidak baik, pembuahan bisa gagal atau embrio tidak berkembang dengan sempurna.
5. Gangguan Tiroid
Kadar hormon tiroid yang terlalu tinggi (hipertiroid) atau terlalu rendah (hipotiroid) bisa memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi dan mengganggu kesuburan, meski siklus haid tetap terlihat normal.
6. Usia Reproduksi yang Makin Matang
Kesuburan wanita mulai menurun sejak usia 30-an, terutama setelah usia 35 tahun. Jumlah dan kualitas sel telur pun menurun seiring waktu, meskipun haid masih teratur.
7. Stres Berlebihan
Stres kronis bisa mengganggu hormon yang mengatur ovulasi dan menurunkan peluang kehamilan. Bahkan Moms yang tampak sehat secara fisik tetap bisa mengalami gangguan kesuburan karena faktor emosional.
8. Gaya Hidup Tidak Seimbang
Kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, kurang tidur, pola makan tidak sehat, atau kelebihan berat badan juga bisa menjadi penghambat kehamilan meski haid rutin.
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Jika Moms sudah:
-
Menikah dan rutin berhubungan tanpa kontrasepsi selama 6–12 bulan
-
Memiliki siklus haid yang teratur
-
Tapi belum juga hamil
Maka sebaiknya lakukan pemeriksaan kesuburan lebih lanjut bersama pasangan.
Dikutip BEMOMIO.ID dari situs Kementerian Kesehatan RI, evaluasi kesuburan sebaiknya dilakukan setelah 6 bulan menikah tanpa kehamilan, terutama jika usia Moms di atas 35 tahun, agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat.