Diagnosis Sepsis Selama dan Setelah Kehamilan
Seperti bentuk sepsis lainnya, mendiagnosis sepsis pada ibu hamil bisa menjadi sulit.
Table of Contents
ToggleDokter sering kali meminta beberapa pemeriksaan, termasuk tes darah, untuk menentukan bukti adanya infeksi. Demikian seperti melansir dari laman Endsepsis.
Dokter juga biasanya akan memeriksa keputihan yang tidak normal, edema, dan hipoglikemia di antara gejala-gejala lainnya. Kunci untuk deteksi dini adalah waspada terhadap risiko sepsis pada semua ibu hamil.
Sejauh ini, para peneliti menemukan bahwa skrining yang dilakukan antara 20 minggu kehamilan dan tiga hari setelah melahirkan lebih akurat ketika penyedia layanan menggunakan alat yang disesuaikan dengan kehamilan.
Skrining yang dilakukan di luar jangka waktu tersebut harus dilakukan dengan alat yang tidak disesuaikan dengan kehamilan.
Para peneliti lalu merekomendasikan pasien yang hasil skriningnya positif sepsis untuk mendapatkan evaluasi kesehatan lanjutan.
Cara Mencegah Sepsis pada Ibu Hamil dan Bayi Baru Lahir
Berikut beberapa cara mencegah sepsis pada ibu hamil dan bayi baru lahir:
- Mencegah dan mengobati infeksi selama kehamilan
- Menjalani pemeriksaan untuk Streptococcus grup B (GBS) dan virus herpes simpleks (HSV) selama kehamilan
- Mengonsumsi antibiotik bila Bunda hamil dan mengidap GBS atau korioamnionitis (infeksi pada cairan ketuban) atau melahirkan bayi dengan sepsis yang disebabkan oleh bakteri
- Melahirkan dalam waktu 12 hingga 24 jam setelah ketuban pecah (ketika selaput ketuban pecah). Persalinan caesar harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah ketuban pecah.
- Melahirkan di tempat yang bersih.
Demikian penjelasan mengenai sepsis pada kehamilan yang menyebabkan kematian pada ibu hamil dan setelah melahirkan. Semoga informasi ini bermanfaat ya.***