Perempuan menjadi pihak yang banyak dirugikan dalam hal infertilitas, stigma masyarakat memandang jika pasangan belum memiliki keturunan maka perempuan lah yang akan dianggap bersalah (Hasanpoor-Azghady, 2019).
Table of Contents
ToggleBias gender menjadi salah satu faktor yang menghambat pasangan mendapatkan layanan kesehatan infertilitas secara maksimal.
Sedangkan budaya patriarki yang sangat kental dan mengakar pada beberapa budaya masyarakat di Indonesia masih menganggap tabu masalah infertilitas.
Hal ini juga berperan dalam pengambilan keputusan untuk mendapatkan layanan infertilitas, di mana setiap keputusan biasanya bergantung kepada suami.
Kemungkinan Penyebab Infertilitas pada Pria
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa ada kemungkinan infertilitas pada pria itu terjadi.
Sehingga pasangan suami istri yang menginginkan keturunan perlu untuk melakukan pemeriksaan dan mengambil layanan infertilitas di pusat medis jika ada indikasi infertilitas.
Infertilitas adalah suatu kondisi di mana pasangan suami istri sulit mendapatkan keturunan meskipun telah berhubungan dalam waktu beberapa lama.
Penyebab infertilitas dapat berupa gangguan ovulasi, endometriosis, jumlah sperma rendah, atau testosteron rendah. Risiko infertilitas ini dapat meningkat seiring bertambahnya usia.
Gejala utama infertilitas adalah tidak hamil, dan mungkin tidak ada gejala jelas lainnya.
Beberapa wanita dengan infertilitas mungkin mengalami periode menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali.
Sedangkan infertilitas pada pria mungkin mengalami beberapa gejala masalah hormonal, seperti perubahan pertumbuhan rambut atau fungsi seksual.